• Kasatlantas : Tidak Ada Razia, Tidak Kami Tunggu, tapi…

    Jakarta – Polda Metro Jaya kembali melakukan operasi Zebra Jaya mulai 15-28 November 2021.

    Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Depok Kompol Jhoni Eka Putra mengatakan, Operasi Zebra kali ini tak ada kegiatan razia karena untuk menghindari kerumunan.

    Jhoni menambahkan, kegiatan Operasi Zebra dilakukan secara mobile.

    “Intinya kami tak cari-cari kesalahan masyarakat, tidak kita tungguin. Artinya, ketika lihat kesalahan atau pelanggaran yang kasat mata, kita akan langsung tindak,” ujar Jhoni di Polres Metro Depok, Senin ( 15/11/2021 ).

    Jhoni menambahkan, pihak kepolisian akan tetap mengedepankan cara-cara humanis, persuasif, dan edukatif.

    Ia berharap masyarakat bisa memiliki kesadaran lalu lintas.

    “Dengan Operasi Zebra, kami tujuannya bisa mengurangi atau mengendalikan penyebaran Covid-19,” tambah Jhoni.

    Jhoni menyebutkan, sasaran kegiatan Operasi Zebra adalah kendaraan yang memakai lampu strobo, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor ( TNKB ) tidak sesuai antara STNK dan nomor pelat, dan kenalpot bising. Pihak kepolisian juga melakukan sosialisasi lewat media massa, media sosial, dan spanduk.

    “Kami harapkan selama Operasi Zebra, penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan dan masyarakat bisa selamat dan aman,” ujar Jhoni.

    Dalam Operasi Zebra di wilayah Depok, Jhoni menyebutkan, mengerahkan 115 personel.

    Operasi yang akan diselenggarakan selama 14 hari tersebut juga melibatkan beberapa pihak terkait seperti Satpol PP, TNI, dan Dinas Perhubungan ( Dishub ).

  • Brimob, Kapolri Jenguk Anggota Tertembak saat Tugas

    Jakarta – Brimob Polri merayakan hari jadi ke-76. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjenguk personel Korps Brimob Polri yang tertembak maupun jatuh sakit ketika menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia.

    Kapolri Sigit memberi perhatian kepada anggota yang telah memberikan pengabdian dan loyalitas untuk negara, bangsa dan masyarakat Indonesia. Setidaknya ada tiga personel Brimob Polri yang dijenguk oleh Kapolri.

    Pertama adalah, Briptu Keny Carlos dari Satbrimobda Papua yang dirawat di RS Polri karena mengalami luka tembak pada bagian perut ketika bertugas mengejar KKB di Papua dalam Satgas Gakkum Ops Nemangkawi. Dalam kesempatan itu, Kapolri Sigit menanyakan kondisi terkini pasca-mendapatkan perawatan oleh tim dokter. Sigit pun mendapatkan laporan bahwa keadaan prajurit itu sudah jauh lebih baik.

    “Sudah jauh lebih baik ya?” kata Sigit dalam keterangan tertulis, Minggu ( 14/11/2021 ).

    “Siap, sekarang sudah bisa jalan, Jenderal,” kata Keny.

    Sigit beserta Ketua Umum Bhayangkari Juliati Sigit Prabowo juga bertemu langsung istri serta anak dari prajurit Brimob Polri yang berumur enam bulan tersebut. Pada momentum tersebut, sang istri berterima kasih kepada Sigit karena suaminya telah diberikan perawatan yang sangat baik sehingga keadaannya berangsur pulih saat ini.

    “Pertama kali di sini seperti bukan di rumah sakit, seperti di hotel. Bagus sekali,” ujar istri Keny kepada Sigit.

    Kapolri Sigit juga memberikan semangat kepada Keny agar segera lekas pulih dan kembali bertugas demi menjaga keamanan di Indonesia. “Yang penting cepet sembuh, dan terus semangat,” kata eks Kapolda Banten itu.

    Selain itu, Sigit juga akan menjenguk Briptu Lutfi Maulana dari Mako Korps Brimob Polri, yang mengalami luka tembak rekoset kaki kirinya. Ia saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( RSPAD ).

    Kemudian, mantan Kabareskrim Polri ini bakal melakukan sambungan panggilan video call dengan istri dari Bharatu Simon Nitipia Mako Korps Brimob Polri, sekaligus personel Satgas Nemangkawi yang sedang tidak sadarkan diri karena penyakit Hepatitis yang dideritanya. Kapolres Mimika AKBP IGG Era Adhinata nanti juga ikut mendampingi guna menjelaskan kondisi dari personel Brimob yang dirawat di RSUD Timika tersebut.

  • Aksi Pemalak TKW Karantina di Wisma Atlet Berakhir

    Jakarta – Aksi pemalakan tenaga kerja wanita ( TKW ) karantina di Wisma Atlet Pademangan, Jakarta Utara, viral di media sosial. dan menjadi sorotan. Tidak lama kemudian polisi menangkap dua orang pelaku.

    Dalam rekaman video viral, nampak TKW tersebut berada di dalam sebuah mobil. Di luar mobil, tampak seorang pria mengenakan rompi cokelat dan berkacamata hitam meminta sejumlah uang.

    TKW yang berada di dalam mobil tersebut keberatan dimintai sejumlah oleh pria tersebut. Namun akhirnya TKW tersebut memberikan uang Rp 50 ribu kepada pria tersebut melalui sopir.

    ” TKW mau dikarantina di Wisma Atlet dipalak oknum, dikasih 50 ribu masih kurang minta lagi,” demikian tulis narasi yang menyertai video tersebut.

    Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada 25 Oktober 2021, namun viral belakangan ini.

    Pelaku Ditangkap

    Polisi merespons keresahan masyarakat itu dan menangkap satu orang pelaku pada Kamis ( 11/11 ). Pelaku berinisial MS alias L ( 39 ) ditangkap masih di sekitaran lokasi.

    ” Sudah kita amankan. Dia petugas parkir, cuma dia melakukan pungli,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Guruh Arif Darmawan

    Pelaku tersebut diperiksa di Polsek Pademangan. Hasil pemeriksaan, pelaku melakukan aksi tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri.

    ” Sementara pengakuannya sendiri, duitnya masuk ke kantong dia sendiri,” katanya.

    Setelah menangkap MS, polisi juga menangkap 1 pelaku lainnya pada Jumat ( 12/11 ).

    ” Infonya 1 lagi ditangkap. Jadi ada dua ( Pelaku ),” imbuh Guruh.

    Polisi Sita Uang hingga Rompi

    Guruh mengatakan, pihaknya menyita sejumlah barang bukti dari pelaku atas aksi pemalakan tersebut.

    Sejumlah barang bukti pun ikut disita polisi dari pelaku. Di antaranya sejumlah uang yang diduga hasil pemalakan.

    ” Ada uang sekitar Rp 2 juta ya dari satu orang. Kemudian ada rompi dan kacamata yang saat itu dia viral,” ujar Kapolsek Pademangan AKP Panji Ali.

    Dalam kesempatan terpisah, Wakapolres Jakarta Utara AKBP Nasriadi mengatakan polisi juga menyita pakaian yang dipakai pelaku saat itu.

    ” Kita telah mengamankan satu orang dengan barang buktinya, contoh kacamata yang dia gunakan, baju yang dia gunakan, juga sejumlah uang,” jelas Nasriadi.

    Bekerja Berkelompok

    Nasriadi mengatakan kedua pelaku melakukan aksi pemalakan di luar area Wisma Atlet. Mereka bekerja secara berkelompok.

    ” Mereka bertindak atas nama dirinya sendiri, mereka bertindak di luar area Wisma Atlet itu. Kemudian kita kembangkan artinya mereka hanya kelompok-kelompok mereka saja. Mereka mengambil keuntungan dari hal tersebut,” paparnya.

    Nasriadi mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami keterangan kedua pelaku. Adapun, kedua pelaku diketahui sejauh ini hanya memberikan ancaman verbal saja.

    ” Terkait ancaman, kita masih mendalami. Tapi ancaman di sini adalah ancaman verbal, artinya masyarakat yang di situ kan akan sering bolak-balik ke keluarga dan sebagainya. Ada ancaman kalau nggak memberikan uang tidak bisa ke situ dan sebagainya begitu,” paparnya.

    Polisi Tingkatkan Patroli

    Menyikapi hal tersebut, Nasriadi mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pengelola Wisma. Polisi juga akan meningkatkan intensitas patroli.

    ” Kita berkoordinasi dengan pengelola wisma atlet, kita juga melakukan patroli. Kita juga tempatkan personel di situ untuk benar-benar memantau, baik itu yang berpakaian dinas ataupun berpakaian preman untuk memantau agar pungli ini tidak terjadi lagi dan tidak terulang kembali,” kata Nasriadi.

    Nasriadi menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang kepada pelaku premanisme yang meresahkan warga.

    “Kita terus akan melakukan penangkapan terhadap pungli yang ada di sekitar sini,” tambahnya.

  • 3 Tersangka Kasus Curanmor Ditangkap

    Jakarta – Polsek Ciledug menangkap tiga tersangka kasus pencurian kendaraan roda dua di dua tempat yang berbeda pada 22 dan 25 Oktober 2021.

    Kapolsek Ciledug Kompol Poltar L Gaol berujar, tiga tersangka itu berinisial EM, A, dan HR.

    EM ditangkap di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, pada 22 Oktober 2021.

    Sedangkan, A dan HR ditangkap di Larangan, Kota Tangerang, pada 25 Oktober 2021.

    Poltar mengatakan, ketiga tersangka itu tergabung dalam satu jaringan yang sama.

    Penangkapan ketiga pelaku itu bermula saat EM mencuri sebuah motor di Jalan Bhakti, Gaga, Larangan, Kota Tangerang, pada 20 Oktober 2021.

    “EM melihat ada sebuah motor di sebuah klinik di Jalan Bhakti. Saat itu, dia langsung melangsungkan aksinya menggunakan kunci T,” papar Poltar saat konferensi pers di Mapolsek Ciledug, Kota Tangerang, Kamis ( 11/11/2021 ).

    Usai berhasil menghidupkan motor milik korban, EM langsung kabur dari lokasi tersebut.

    Dua hari setelahnya, pada 22 Oktober 2021, korban melaporkan pencurian tersebut ke Polsek Ciledug.

    Berdasar laporan itu, polisi melakukan pengembangan usai melakukan olah tempat kejadian perkara ( TKP ).

    “Setelah dikembangkan, kami dapat menangkap EM di Kelapa Dua ( Pada ) tanggal 22 Oktober 2021,” sebutnya.

    Poltar melanjutkan, pada tanggal 25 Oktober 2021, ada seorang warga yang melaporkan bahwa motornya dicuri orang tak dikenal.

    Setelah mendapat laporan itu, pihaknya melakukan penyelidikan. Berdasar penyelidikan, pelaku yang mencuri tersebut adalah A dan HR.

    Keduanya diketahui hendak menjual motor yang dicuri di Larangan.

    “Saat menunggu pelanggan motor hasil pencurian tersebut, polisi mengamankan A dan HR di Larangan,” kata Poltar.

    Berdasar pemeriksaan terhadap ketiga tersangka, mereka mencuri motor berdasar pesanan pelanggan.

    Selama ini, ketiganya telah mencuri kendaraan roda dua sebanyak lima kali.

    “Lima kali itu di Tangerang Selatan dan Tangerang Kota,” papar Poltar.

    Ketiga tersangka disangkakan Pasal 363 KUHP dengan ancaman pidana penjara selama 5 tahun.

  • Polisi Usut Unsur Pidana Kekerasan di Lapas Narkotika Yogya

    Jakarta – Anggota Komisi III Fraksi NasDem DPR RI, Subardi, mendesak investigasi atas kasus dugaan kekerasan dan penyiksaan keji terhadap warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan ( Lapas ) Narkotika Kelas II-A Yogyakarta, di Pakem, Sleman, tak boleh berhenti. Subardi juga meminta agar dugaan kekerasan itu tak hanya diusut dari aspek sanksi pegawai tapi juga pidana.

    “Investigasi harus menyeluruh dan hasilnya disampaikan kepada publik. Saya harap ada tindakan tegas mulai dari aspek pidana maupun sanksi kepegawaian,” kata Subardi dalam keterangan tertulisnya, Rabu ( 10/11/2021 ).

    Dia meminta investigasi wajib dilakukan oleh sejumlah instansi, di antaranya oleh Komnas HAM menyangkut pelanggaran HAM dan kepolisian untuk menelusuri bukti-bukti yang mengarah kepada tindak pidana. Selain itu dia juga meminta agar Ombudsman menelusuri penyelenggaraan administrasi, LPSK untuk melindungi dan memulihkan kondisi korban, dan Kemenkumham untuk memeriksa hingga pemberian sanksi internal.

    “Apa yang dilakukan sipir atau petugas Lapas diduga kuat telah melanggar HAM. Kalapas harus tanggung jawab. Jangan lagi dibantah bahwa di Lapas semua tertib, seakan-akan tidak ada peristiwa tersebut. Ini sudah jelas korbannya ada, bekas siksaannya ( Di tubuh korban ) ada, laporannya ada, kronologi hingga detail siksaannya sudah diungkap korban,” ungkap legislator asal Sleman itu.

    Subardi mengaku khawatir jika investigasi menyeluruh tidak segera dilakukan dan hasilnya disampaikan ke publik, kasus ini akan menguap begitu saja. Sementara, menurutnya korban terus merasakan efek trauma yang berkepanjangan.

    “Yang paling penting investigasi harus berjalan cepat. Kalau diulur-ulur nanti kasusnya bisa saja hilang lenyap. Tidak ada evaluasi, tidak ada sanksi. Kasus ini sangat keji, para korban diperlakukan tidak manusiawi. Mereka merasakan depresi, serangan mental dan trauma berkepanjangan,” jelas Ketua DPW Partai NasDem DIY itu.

    Diberitakan sebelumnya, sejumlah eks narapidana ( Napi ) Lapas Narkotika Kelas II-A Yogyakarta memberikan kesaksian soal adanya tindak kekerasan di dalam lapas. Mereka kemudian melapor ke Ombudsman RI ( ORI ) Perwakilan DIY.

    Vincentius Titih Gita ( 35 ), warga Yogyakarta, adalah salah satu eks napi yang melapor ke ORI. Dia menceritakan, banyak pelanggaran HAM dan penyiksaan yang terjadi di lapas.

    “Banyak pelanggaran HAM di lapas, berupa penyiksaan. Jadi, begitu kita masuk, tanpa kesalahan apa pun, kita langsung dipukuli pakai selang, diinjak, ( Pakai ) kabel juga, dipukul pakai kemaluan sapi ( Yang dikeringkan ),” kata Vincen ditemui di kantor ORI DIY, Depok, Sleman, Senin ( 1/11 ).

    Ketua Ombudsman RI ( ORI ) Perwakilan DIY Budhi Masturi mengatakan pihaknya akan segera melakukan langkah-langkah klarifikasi ke pihak Lapas Narkotika Yogya.

    “Apa yang disampaikan nanti akan diklarifikasi oleh tim. Tapi yang pasti secara kejadian mereka mengeluhkan berbagai perlakukan yang mereka rasa sebagai tindakan kekerasan selama interaksi pelayanan publik di lapas,” kata Budhi, Senin ( 1/11 ).

    Dari laporan yang diterima Ombudsman, jumlah korban kekerasan di Lapas Narkotika Yogya lebih dari 10 orang. Jumlah itu diperkirakan masih bisa bertambah.

    “( Korban kekerasan di lapas ) 10-an ada. Tapi, menurut mereka, masih banyak,” sebutnya.

  • Karantina 3 Hari Hanya, Untk Orang Yg Divaksin Dosis Lengkap

    JAKARTA – Juru Bicara Satuan Tugas ( Satgas ) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan, masa karantina 3 hari hanya berlaku bagi pelaku perjalanan internasional yang sudah divaksinasi Covid-19 dosis lengkap.

    Pelaku perjalanan internasional usia anak yang belum mendapatkan vaksin harus tetap menjalani karantina selama 5 hari.

    “Apabila pelaku perjalanan datang bersama dengan anak-anak yang belum divaksin maka masa karantina yang berlaku untuk anak tersebut adalah 5 hari atau berlaku sama dengan orang dewasa yang belum divaksin lengkap,” kata Wiku dalam konferensi pers daring, Selasa ( 9/11/2021 ).

    Sebagaimana diketahui, vaksin Covid-19 saat ini belum diperuntukkan bagi anak usia kurang dari 12 tahun. Vaksinasi diperuntukkan bagi usia sama dengan atau lebih dari 12 tahun.

    Dengan situasi tersebut, Wiku mengimbau kepada orang tua yang berencana masuk Indonesia bersama anak yang belum divaksin agar memperhatikan aturan karantina yang telah ditetapkan pemerintah.

    “Karantina tiga hari hanya berlaku untuk mereka yang sudah divaksin lengkap,” tandasnya.

    Adapun pengurangan masa karantina pelaku perjalanan internasional tertuang dalam Surat Edaran ( SE ) Satgas Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19.

    Sebagaimana bunyi SE, disebutkan bahwa karantina 3 hari khusus ditujukan bagi pelaku perjalanan internasional yang sudah divaksinasi dosis penuh.

    Sementara, pelaku perjalanan internasional yang baru menerima vaksin dosis pertama tetap harus menjalani karantina selama 5 hari.

    Ketentuan lainnya yakni pelaku perjalanan internasional wajib melakukan tes Covid-19 saat tiba di pintu masuk kedatangan dan kembali dites setelah menjalani karantina.

    “Tes ulang RT-PCR kedua untuk menyelesaikan masa karantina yaitu exit test pada hari ketiga, dan exit pada hari keempat untuk karantina 5 hari,” kata Wiku.

    Wiku menekankan, aturan karantina tersebut berlaku di seluruh pintu masuk kedatangan.

  • PREDIKSI ROTTERDAM RABU 10-11-2021

    PREDIKSI ROTTERDAM RABU 10-11-2021

    AI : 8319
    2D :
    88 83 81 89
    38 33 31 39
    18 13 11 19
    98 93 91 99
    TOP 50:50 : AS, GENAP
    COLOK BEBAS : 918
    SHIO : KAMBING


    ██████████████████████████████████████████
    Link ISTANAJP – Browser / Android ( HP ) :
    WWW.ISTANAJP.NET

    WWW.ISTANAJP.NET/WAP
    LINE : istanajp_com
    WHATSAPP : 0821-6743-5055
    ██████████████████████████████████████████

    Link ISTANAJP2 – Browser / Android ( HP ) :
    WWW.GULAMANIS.COM
    WWW.GULAMANIS.COM/WAP

    LINE : istanajp2
    WHATSAPP : 0821-8667-1508
    ██████████████████████████████████████████
    Support Bank : BCA – BRI – BNI – MANDIRI
    MINIMAL DEPOSIT & WITHDRAW : 50.000 ( Fast Process )
     Pelayanan 24 Jam Nonstop 
    Respon Yang Cepat & Ramah oleh CS ISTANAJP

    **Utamakan Prediksi Sendiri**

  • Ada Ledakan di Rumah Orangtua Veronica Koman

    JAKARTA – Ledakan terjadi di rumah orangtua aktivis HAM Veronica Koman yang berada di Jakarta Barat, Minggu ( 7/11/2021 ) siang.

    Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono menyatakan, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara ( TKP ).

    Guna mengetahui benda apa yang meledak di rumah yang berada di RT 006 RW 003, Jelambar Baru, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, itu, polisi hendak berkoordinasi dengan Pusat Laboratorium Forensik.

    “Kita sudah melakukan olah TKP dan sudah berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik untuk mengetahui benda apa yang meledak,” ujar Joko kepada awak media, Minggu.

    Saat ditanya apakah rumah tersebut milik Veronica Koman, Joko lantas mengatakan bahwa rumah tempat terjadinya ledakan itu milik orangtua Veronica.

    “Menurut info, rumah orangtuanya,” ucap dia

    Temuan terbaru polisi, sumber ledakan diduga kuat berasal dari petasan. Selain serpihan ledakan dan juga percikan cat warna merah, polisi juga turut mengamankan secari kertas berisi pesan bernada ancaman.

    Isinya sebagai berikut :

    “If the police and aparat dalam maupun luar negeri tidak bisa menangkap ‘Veronica Kuman@hero, pecundang, dan pengecut, kami terpanggil bumi hanguskan dimanapun anda bersemnunyi maupun gerombolan pelindungmu”.

    Selain itu, ternyata di hari yang sama, teror juga terjadi di rumah kerabat Veronica.

    Kuasa hukum Veronica, Michael Hilman, mengungkapkan saat itu, ada pengemudi ojek online yang mengantar paket ke rumah kerabat Veronica Koman.

    “Pagi itu mengantar paket atas nama Veronica Koman padahal di tempat kerabat Veronica Koman itu tidak ada komunikasi atau berinteraksi dengan Vero,” kata Michael dalam konferensi pers secara virtual, Senin ( 8/11/2021 ).

    Paket yang ditempatkan di pintu masuk itu kemudian dibawa masuk oleh kerabat Veronica.

    “Paket tersebut disimpan di dalam rumah, enggak tahu isinya apa,” lanjut Michael.

    Pada Minggu malam, kerabat Veronica mengembalikan paket berwarna biru itu ke tempat semula di pintu masuk.

    Lalu, tim advokasi Papua mendatangi rumah kerabat Veronica Koman bersama tim densus 88 dan Kepolisian dari Polres Jakarta Barat. Paket tersebut ternyata berisi bangkai ayam dan tulisan berisi ancaman untuk Veronica Koman.

    “Kami menghampiri rumah anggota keluarga ( Veronica ), mereka ( Polisi ) melakukan pemeriksaan. Rupanya isi ( Paket ) itu ada bangkai ayam dan ada tulisan teror-teror seperti itu. Tulisan itu ancaman kepada Veronica Koman,” kata Michael.

    Adapun, isi pesan ancaman yang dikirim bersama bangkai ayam itu adalah “Siapapun yang menyembunyikan Veronika Koman, maka akan bernasib sama seperti bangkai ini”.

  • Kronologi Dua Teror di Rumah Keluarga Veronica Koman

    JAKARTA – Aktivis Hak Asasi Manusia ( HAM ) Papua, Michael Himan mengatakan, terjadi dua teror di dua rumah keluarga aktivis HAM, Veronica Koman, pada Minggu ( 7/11/2021 ).

    Teror pertama terjadi pada Minggu sekitar 10.26 WIB di rumah orangtua Veronica Koman di kawasan Jakarta Barat.

    Saat itu, ada barang misterius yang dilempar ke rumah orangtua Veronica Koman hingga menyebabkan terjadinya ledakan.

    Pada hari yang sama, terjadi juga teror di rumah kerabat Veronica Koman. Saat itu, ada pengemudi ojek online yang mengantar paket ke rumah kerabat Veronica Koman.

    “Pagi itu mengantar paket atas nama Veronica Koman padahal di tempat kerabat Veronica Koman itu tidak ada komunikasi atau berinteraksi dengan Vero,” kata Michael dalam konferensi pers secara virtual, Senin ( 8/11/2021 ).

    Paket yang ditempatkan di pintu masuk itu kemudian dibawa masuk oleh kerabat Veronica.

    “Paket tersebut disimpan di dalam rumah, enggak tahu isinya apa,” lanjut Michael.

    Pada Minggu malam, kerabat Veronica mengembalikan paket berwarna biru itu ke tempat semula di pintu masuk. Lalu, tim advokasi Papua mendatangi rumah kerabat Veronica Koman bersama tim densus 88 dan Kepolisian dari Polres Jakarta Barat.

    Baca juga : Ada Ledakan di Rumah Orangtua Veronica Koman

    Paket tersebut ternyata berisi bangkai ayam dan tulisan berisi ancaman untuk Veronica Koman.

    “Kami menghampiri rumah anggota keluarga (Veronica), mereka (polisi) melakukan pemeriksaan. Rupanya isi (paket) itu ada bangkai ayam dan ada tulisan teror-teror seperti itu. Tulisan itu ancaman kepada Veronica Koman,” kata Michael.

    Saat ini, polisi masih menyelidiki identitas penebar teror di rumah keluarga Veronica Koman. Polisi telah mengumpulkan barang bukti dan berkoordinasi dengan Pusat Laboratorium Forensik guna menyelidiki asal ledakan di rumah orangtua Veronica Koman.

  • Radikalisme, Polisi Minta Warga Laporkan Hal Mencurigakan

    Sumatera – Kepolisian Daerah ( Polda ) Lampung mengajak masyarakat untuk dapat memperkuat pemahaman mengenai bahaya radikalisme dan terorisme. Sebelumnya, Densus 88 antiteror telah menangkap tujuh orang terduga teroris di Lampung, yakni SU ( 61 ), SK ( 59 ) DRS ( 47 ), NA ( 42 ) S ( 47 ), F ( 37 ) dan AA ( 42 ).

    Kabid humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, apabila adanya gerak gerik masyarakat yang mencurigakan untuk segera dilaporkan ke perangkat RT, Lurah ataupun Pamong setempat.

    “Kita harap lapor jika ada masyarakat yang mencurigakan, kemudian ada tamu sampai melebihi batas perlu lapor RT setempat,” kata Pandra dalam keterangannya, Minggu ( 7/11 ).

    Menurutnya, masyarakat dengan ketidakstabilan emosi kerap dimanfaatkan untuk dimasukkan ideologi radikalisme. Oleh karena itu, pemahaman sejak dini tentang bahaya radikalisme perlu ditanamkan.

    Karena, pemahaman itu pertama kali disebut Pandra berasal dari lingkungan keluarga dan kemudian lingkungan pendidikan yaitu sekolah dan sosialisasi di tengah masyarakat.

    “Jangan sampai anggota keluarga ini ikut kegiatan yang mengarah pada kejahatan termasuk terorisme. Peran pendidikan dari keluarga oleh orangtua, ayah dan ibu ini pertahanan yang utama,” sebutnya.